• Home
  • About
  • Daily life
  • Poem
  • Nutritionist
Powered by Blogger.
twitter instagram pinterest bloglovin Email

Jumat Sore

Qaddarallahu Wa Maa Sya’a Fa’ala


Malam ini hujan mengguyur kota
Aku berjalan menunduk menyusuri jalan
Langkahku terhenti di suatu kubangan air yang mencerminkan seseorang
Seseorang yang membuatku membangun harapan, yang kemudian runtuh hanya dengan sekali sentuh

Dia runtuhkan pertahanan hati yang sengaja ku bangunkan sebuah tembok raksasa
Tak kasat mata tapi hebat menghalangi rasa
Apalagi terhadap cinta, yang tak pernah punya cukup tenaga walau hanya untuk mendongak meminta
Tembokku tinggi. Tinggi hati dari cinta yang selalu rendah diri

Betapa kukuhpun cinta bertahan mengucap salam dari balik tembok raksasaku untuk sekedar bertamu di muka beranda, tetap saja hatiku menulikan telinga
Hingga bertamulah dia
Lelaki berjubah kehangatan, penyusup yang tidak mengatasnamakan cinta tapi ia buat aku berbagi cita

Kilat menyambar. Tersentak aku menutup mata
Dia hilang. Aku menggigil menahan rasa
Dimana dia? Bersembunyi di balik kata, aku tak lagi mengerti alur cerita

Petir menggelegar. Aku berlari dibawah hujan deras
Memasang tekad membangun kembali tembok tinggi lagi kokoh dan keras
Pukul 9 malam dan hujan berhenti, aku dihujani kesadaran diri
Selama ini aku telah jatuh sendiri, ada luka tertinggal menyakiti
Itulah kenapa aku memilih pergi

"Scars have the strength power to remind us that our past is real"

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Aku menulis tentangmu
Seharusnya kamu yang paling tahu mana kamu diantara puisi-puisiku
Kata-kata sia-sia
Tak satupun menyentuhmu
Aku pilu tak dibaca

Kupikir suka citaku kamu
Tapi luka seiring langkahku mengejarmu
Seharusnya aku dengar kata ibu
jangan berlari sambil menutup mata
kan mudah ku terjatuh, hati salah arah

Aku tak bisa membacamu
Kata-katamu berjuta makna, aku yang mana?  Seharusnya aku dengar kata ayah
Jangan jatuh cinta pada pujangga
kan mudah ku terluka, hati salah kira

Aku berlarian ke arahmu, kau tak ingin ku tuju Aku cinta puisimu, bukan aku isi tulisanmu
Aku harus apa?
Menghasut ibu agar memarahimu?
Atau ke ayah untuk mengadu?
Tidurlah semalam saja di puisi ini
Rasakan rindu pada detak spasi

Tiba suatu hari aku tertangkap basah, kau baca puisiku
Kau menemukanku payah, terbaca menyedihkan tersesat menujumu

Kata-kata terangkai mengenaskan
Cara kerja titik tidak dimengerti penantian
Beratus-ratus ingin berhenti ku tuliskan
Beribu-ribu kau tetap ku inginkan

Harus berapa puisi lagi ku tulis?
Mengundangmu membacaku menangis
Harus berapa bait lagi meringis?
Menunggu harapanku segera kau tepis

Letih aku berjalan dalam lembar kertas
Menambahkan kata-kata cinta tanpa batas
Pun tak berbalas



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


3 fajar terlewati
Aku tak lagi kemerahan
Aku termenung setiap pagi
Kini aku menemukan jawaban

Berada di tengah sangat asyik
Tanpa beban dan pikiran melayang-layang
Tapi kau tentu tahu, aku menyusun tangga hanya karena tertarik
Bukan karena senang

Dia yang mengajakku ke barat, juga menawarkan bagaimana hidup yang aku inginkan
Dan aku manusia biasa yang mudah tergiurkan
Kudengar orang-orang lebih suka kepastian
Berat. Tapi tiada kata yang lebih baik selain kejujuran

Disini, kusederhanakan bahasa
Untuk kau baca
Aku tau kau pintar
Dan aku yakin kau pahami ini juga dengan baik dan benar

Aku masih di tengah
Menyenangkan berkuasa atas arah
Bebas tanpa B atau A
Bebas tanpa rasa


Ponakan Om Aup 
Jago, 24 Oktober 2018
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Aku membangunkannya payah 
Untuk kutanyakan arah
Kudapati aku harus ke selatan
Untuk melupakan 

Aku tidak lagi di timur, yang kemerahan seperti fajar saat matahari datang 
Dia masih tertidur, ketika aku sudah bangun waktu subuh menjelang 
Pun tidak memilih utara yang sunyi tanpa diutarakan
Karena sepi bisa membuatku tidak bergerak seperti mati dan aku tak tahan
Dia juga tidak mau barat dengan keramaiannya 
Karena jingga, aku tak sama dengannya

Lalu kudapati kamu ketika aku masih mengharapkan barat
Waktu berjalan sangat lambat
Menuju selatan tidak pernah mudah bagi siapapun
Aku berusaha tanpa ampun 

Kamu di tengah
Aku baru tau itu juga pilihan
Ternyata kita tidak harus menuju arah
Karena kudapati kamu menapaki tangga dengan pasti walau pelan 

Aku tertarik
Menuju tengah
Karena selatan sungguh tidak menarik
Membuat jengah 

Berada di tengah, seperti magnet, aku ikut mencoba menyusun tangga
Kususun tangga pertama, kedua, ketiga dan seterusnya
Berada di tengah, aku berkuasa atas arah.
Disitu ada kamu yang membantu sebagai pengarah 

Kini ada yang menawariku ke barat
Sedang aku masih kemerahan ketika fajar
Di tengah aku senang menyusun tangga dan masih ingin berkutat
Kurasa ini semua tidak benar 

Kisah di timur, pengalaman di selatan, aku siap merelakan
Menyusun tangga di tengah, kemudian menuju barat, mungkin itu yang kuinginkan 
Kamu mencegat
Takut tidak bisa membawaku ke barat
Sekali lagi, aku tidak tahu kemana harus berjalan
Katamu, aku harus bertanya pada tuhan 


Kakak nya Dilan, 
Jago, 21 Oktober 2018
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Menangis,  menangis saja

Lalu tak ingat yang mengajakmu tertawa

Mau pergi,  pergi saja

Lalu tak hiraukan yang menyediakan bahu

untuk kau sandarkan raga

Sedih kau sendiri bermelankolis

Kesal kau lalu berubah jadi dramatis

Berubah jadi egois

Kemudian lupa bagaimana cara berealistis


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Utara itu sunyi.
Pun Selatan kehilangan penghuni.
Orang-orang berlarian ke Barat, senja adalah jingga paling disenangi.
Sedangkan kita masih di Timur.

Entah kita ini apa.
Kau matahari, sehingga aku fajar?
Yang kemerah-merahan menjelang terbitmu?

Entah kita ini apa.
Telah subuh. Aku bangun dan kau masih tertidur.
Apa perlu kuputar arah menuju selatan? Agar kita tak perlu menembus keramaian di Barat. Atau kau lebih ingin kubawa ke Utara? Tempat terbaik rasa ingin menyunyi tanpa harus terlebih dahulu diutarakan.

Bangunlah sebentar.
Setidaknya, aku bisa tahu kemana harus berjalan.
Utara yang sunyi.
Barat dan keramaiannya.
Atau selatan yang dilupakan.

Aku hanya tidak ingin Timur.
Yang terus terbit di saat kau masih terlelap. Cukup melelahkan.

Aku juga takut.
Ketika kau terjaga, aku sudah petang.
Matahari membakarku. Hati berjelaga.
Aku takut.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Bukan apa-apa. 
Aku hanya ingin meninggalkan yang lalu-lalu, menata yang sedang dan akan kemudian.  
Lalu biarkan ia bersama waktu, berlalu pergi dan menjadi kenangan. 
Jika yang datang bernama rindu,  akan kuterima untuk kurenungkan dan jadikan pelajaran. 
Karena untuk menghadapi yang baru,  kita perlu belajar dari pengalaman.  
Bukan! Bukan pelajaran yang rumit,  atau menarik dan seru, tapi belajar untuk tidak mengulangi kesalahan. 

Aku perempuan.  
Dan seperti perempuan kebanyakan. 
Masa bodoh dengan  masa lalu, dan lebih tertarik membicarakan masa depan.

Dengan atau tidak denganmu, semesta dengan kehendak-Nya tetap berjalan. 

Mataram,  27 Desember 2016

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Tidak Ada New York Hari Ini

Tidak ada New York hari ini
Tidak ada New York kemarin
Aku sendiri dan tidak berada di sini
Semua orang adalah orang lain
Bahasa Ibu adalah kamar tidurku
Kupeluk tubuh sendiri
Dan Cinta, Kau tak ingin aku
mematikan mata lampu
Jendela terbuka
dan masa lampau memasukiku sebagai angin
Meriang. Meriang. Aku meriang.
Kau yang panas di kening, kau yang dingin dikenang



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

3 puisi apik karya Rako Prijanto. 

----
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • youtube

Categories

  • ABOUT (1)
  • DAILY LIFE (6)
  • NUTRITIONIST (6)
  • POEM (9)
  • STORY (8)

VISITORS

Blog Archive

  • November 2018 (7)
  • October 2018 (8)
  • July 2018 (2)
  • June 2018 (1)
  • April 2018 (1)
  • December 2016 (1)
  • October 2016 (2)
  • July 2016 (6)
  • June 2015 (1)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates