Melekatkan Kersik ke Buluh
Aku menulis tentangmu
Seharusnya kamu yang paling tahu mana kamu diantara puisi-puisiku
Kata-kata sia-sia
Tak satupun menyentuhmu
Aku pilu tak dibaca
Kupikir suka citaku kamu
Tapi luka seiring langkahku mengejarmu
Seharusnya aku dengar kata ibu
jangan berlari sambil menutup mata
kan mudah ku terjatuh, hati salah arah
Aku tak bisa membacamu
Kata-katamu berjuta makna, aku yang mana? Seharusnya aku dengar kata ayah
Jangan jatuh cinta pada pujangga
kan mudah ku terluka, hati salah kira
Aku berlarian ke arahmu, kau tak ingin ku tuju Aku cinta puisimu, bukan aku isi tulisanmu
Aku harus apa?
Menghasut ibu agar memarahimu?
Atau ke ayah untuk mengadu?
Tidurlah semalam saja di puisi ini
Rasakan rindu pada detak spasi
Tiba suatu hari aku tertangkap basah, kau baca puisiku
Kau menemukanku payah, terbaca menyedihkan tersesat menujumu
Kata-kata terangkai mengenaskan
Cara kerja titik tidak dimengerti penantian
Beratus-ratus ingin berhenti ku tuliskan
Beribu-ribu kau tetap ku inginkan
Harus berapa puisi lagi ku tulis?
Mengundangmu membacaku menangis
Harus berapa bait lagi meringis?
Menunggu harapanku segera kau tepis
Letih aku berjalan dalam lembar kertas
Menambahkan kata-kata cinta tanpa batas
Pun tak berbalas

0 komentar