Kalau Menampi Jangan Tumpah Padinya
Tampi
Menampi
Adalah kegiatan membersihkan (beras, padi, kedelai dan sebagainya) dengan nyiru digerakkan naik turun ke atas (KBBI V, 2016).
Menampi
Adalah kegiatan membersihkan (beras, padi, kedelai dan sebagainya) dengan nyiru digerakkan naik turun ke atas (KBBI V, 2016).
Hari itu, aku belajar menampi.
Nimbrung di perkumpulan bibi dan kakak sepupu ku yang sedang menampi di teras rumah. Ku katakan pada mereka bahwa aku ingin ikut belajar menampi.
Kata bibi ku, "Akan jadi apapun kamu nanti, sehebat apapun... kamu tidak boleh jauh dari dapur. Belajarlah hal-hal kecil seperti ini. Walaupun nanti, kamu punya asisten rumah tangga, setidaknya kamu tahu cara melakukannya. Banyak belajar tidak akan merugikanmu sedikit pun."
Nimbrung di perkumpulan bibi dan kakak sepupu ku yang sedang menampi di teras rumah. Ku katakan pada mereka bahwa aku ingin ikut belajar menampi.
Kata bibi ku, "Akan jadi apapun kamu nanti, sehebat apapun... kamu tidak boleh jauh dari dapur. Belajarlah hal-hal kecil seperti ini. Walaupun nanti, kamu punya asisten rumah tangga, setidaknya kamu tahu cara melakukannya. Banyak belajar tidak akan merugikanmu sedikit pun."
Dia bibi Rahnim, saudara bungsu bapak ku. Tinggal dengan bapak sejak awal pernikahan kedua orangtua ku. Tahun 1991.
Bibi hanya bersekolah sampai SMP. Mulai tinggal dengan kakek lagi setelah tamat. Tapi tetap bolak-balik rumah membantu mamak mengurus rumah dan kami, para keponakannya.
Dia berjasa banyak dalam tumbuh kembang kami semua. Ada andil bibi dalam apa yang tertanam dalam diri kami. Dari semua keluarga, aku paling suka, nyaman dan dekat dengan bibi. Setelah lulus pondok lah aku mulai terbiasa dengan keluarga yang lain. He.
Bibi hanya bersekolah sampai SMP. Mulai tinggal dengan kakek lagi setelah tamat. Tapi tetap bolak-balik rumah membantu mamak mengurus rumah dan kami, para keponakannya.
Dia berjasa banyak dalam tumbuh kembang kami semua. Ada andil bibi dalam apa yang tertanam dalam diri kami. Dari semua keluarga, aku paling suka, nyaman dan dekat dengan bibi. Setelah lulus pondok lah aku mulai terbiasa dengan keluarga yang lain. He.
Bibi memberi ku nyiru, menaruh sedikit beras di atasnya. "Belajar dari yang sedikit dulu." katanya.
Melihat mereka menampi sungguh sangat terlihat mudah. Pikirku menampi akan semudah terlihat.
Kau tau? Ketika mencoba menggerakkan nyiru ke atas dan bawah, beras di nyiru ku berhamburan keluar.
Tidak banyak. Tapi aku gagal. Caraku salah.
Kuperhatikan lagi bagaimana mereka menggerakkan nyiru. Mencoba meniru, aku berhasil membuat beras tetap stay di nyiru. Tapi tidak hanya beras, semua stay, tidak ada yang keluar dari nyiru. Seharusnya, ketika menampi, sekam dan beras patah yang kecil serta batu maupun kotoran lainnya akan keluar dari nyiru. Hanya tersisa beras bersih. Tapi aku tidak.
Aku mencoba lagi.
Lagi.
Dan lagi.
Akhirnya aku berhasil. Hanya berhasil mengeluarkan sekam. Batu dan kotoran kupilih-manual sedangkan beras patah yang kecil dituntaskan oleh bibi ku. Huehehe.
Dan menampi itu memegalkan pemirsa. Pergelangan tanganku pegal. Aku hanya belajar sebentar dibandingkan mereka berdua yang dari tadi dan menuntaskannya hingga selesai. Bayangkan saja pegalnya pasti berkali lipat.
Kau tahu apa yang kudapat dari belajarku waktu itu?
Nasi yang kita makan, berproses panjang dan tidak mudah untuk menjadi nasi yang tersaji di piring, kita makan dan menjadi sumber energi untuk beraktivitas.
Aku yang sekarang. Kamu yang sekarang. Berproses panjang dan tidak mudah sampai sebesar ini dengan segala pencapaian kita masing-masing.
Dibaliknya, ada tangan-tangan pegal, ada tetes-tetes keringat juga air mata yang kita tidak tahu banyaknya.
Ada kuasa tuhan!
Bersyukurlah.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin.
Jangan sombong! Kita tidak ada apa-apanya dan tidak pantas untuk itu.
Satu lagi pesan ku kawan...
Takkan pernah terbayar kerja keras orangtua meski kau berprestasi dimana-mana.
Iya, tidak terbayar, tapi bisa membuat bangga.
Bahagiakan, selagi sempat.
Tengok dan telpon mereka.
Usia tak lagi muda,
Kau yang muda jangan hanya sibuk dengan dunia sendiri.
Mira Ardiningsih
Jago, 20 Oktober 2018

0 komentar